Selasa, 11 September 2012

Refleksi Pertemuan II (10 September 2012)


Nama              : Muhamad Galang Isnawan
NIM                : 12709251021
Kelas               : A Pendidikan Matematika 2012
Mata Kuliah   : Filsafat Ilmu       

Refleksi Pertemuan II (10 September 2012)

DEFINISI FILSAFAT SEBAGAI JUAL-BELI
            Filsafat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan. Kapan ranah filsafat menyangkut ke dalam ranah spiritual? Filsafat tergantung dari objek dan metodenya. Objek adalah apa yang dipikirkan dan metodenya adalah bagaimana memikirkannya. Sehingga orang yang tahu bahwa filsafatnya sudah memasuki ranah spiritual adalah orang yang memiliki pengalaman. Contohnya, seorang muslim akan menunjukkan keislamannya dengan menambah jumlah intensitas ibadahnya. Jadi, orang yang melihat akan mengetahui bahwa seseorang tersebut adalah muslim. Artinya, kita memperlihatkan, baik dari segi ucapan, maupun tindakan bahwa kita adalah seorang muslim, salah satu contohnya adalah salat. Salat di sini dapat kita artikan sebagai objek dari filsafat agama sehingga secara tidak langsung sudah menyangkut ke masalah spiritual. Maksudnya di sini adalah, ketika kita sudah berusaha berpikir tentang agama dan berusaha untuk menjalankan ibada, kemudian meningkatkan intensitasnya, maka secara tidak langsung ranah filsafat yang dipelajari sudah masuk ke dalam ranah spiritual.
Bagaimana kekurangan dan kelebihan lupa menurut filsafat? Lupa dari sisi filsafat adalah berdimensi (ruang dan waktu). Lupa tentang apa, dimana, bagaimana, dan manfaat lupa itu sendiri. Lupa memiliki manfaat, yaitu ketika kita mengalami sesuatu hal yang sedih di masa lalu untuk kemudian kita menginginkan hal tersebut bisa kita lupakan. Orang yang tidak lupa adalah diriku yang sedang memikirkannya. Dan orang yang lupa adalah dirimu yang sedang tidak memikirkannya. Maka hidup adalah 90% kelupaan. Artinya di sini bahwa ketika kita sedang mempelajari sesuatu hal, yang kemudian kita menekuni hal tersebut, maka secara tidak langsung kita sudah melupakan sangat banyak hal karena tidakkah kita menyadari bahwa hal yang kita pelajari tersebut adalah salah satu dari tak berhingga banyaknya hal yang ada dalam kehidupan ini. Lupa secara filsafat adalah abstraksi, reduksi, dan pilihan di bawah sadar. Abstraksi di sini dimaksudkan bahwa lupa itu adalah sesuatu hal yang tidak pernah bisa kita tunjukkan dengan sesuatu yang nyata. Reduksi dimaksudkan sebagai kodrat manusia yang hakiki yang dianugerahkan Tuhan kepadanya sejak mereka lahir. Dan pilihan bawah sadar diartikan sebagai sesuatu yang merupakan pilihan yang tidak pernah kita sadari ketika melakukan sesuatu untuk kemudian melupakan sesuatu yang lain.
Filsafat tidak selamanya harus diungkapkan dalam bahasa kiasan. Filsafat memilki definisi yang berbeda-beda tergantung dari subjeknya sehingga bahasa yang digunakan pun berbeda-beda tergantung siapa yang sedang berfilsafat. Menggunakan bahasa sehari-hari dalam berfilsafat pun tidak pernah menjadi suatu larangan. Filsafat bukan hanya dari segi bahasa yang digunakan, melainkan dari segi bagaimana seseorang memikirkan sesuatu kemudian mereka ungkapkan agar mudah dimengerti dirinya dan orang lain. Dalam berfilsafat benar atau salah itu berdimensi, bertingkat-tingkat, dan bermacam-macam. Dalam filsafat terdapat dua macam kebenaran, yaitu benar absolute (spiritual) dan benar material (hukum alam dan sebab-akibat). Selama segala sesuatu itu ada di dalam pikiran manusia, maka akan relatif mengenai nilai kebenarannya. Dan jika di dalamnya terdapat absolutisme, maka hal tersebut akan membawa kepada kegagalan atau kehancuran karena tidak ada sesuatu pun yang absolutly true kecuali Allah SWT.
Dari sudut pandang filsafat, pada diri seseoarng pasti terdapat diri orang lain. Contohnya, di dalam diriku terdapat orang tuaku, kakak-kakaku, keponakan-keponakanku, dan teman-temanku. Berbicara tentang hakikat filsafat, filsafat akan sangat berbahaya jika pada awalnya kita tidak percaya akan adanya Tuhan (Allah SWT) meskipun pada akhirnya setelah berfilsafat itu selesai mereka akan percaya mengenai adanya Tuhan. Bagaimana mungkin seseorang akan membangun pengetahuan jika mereka tidak memiliki kepercayaan akan apa yang sedang mereka pelajari. Bagaimana mungkin seorang murid akan memiliki pengetahuan jika mereka tidak percaya kepada gurunya.
HERMENEUTIKA dalam filsafat tidak hanya sekedar dipelajari tetapi dilaksanakan. Istilah ini berasal dari Yunani. Yunani memiliki peradaan penting dalam filsafat dan menjadi acuan dalam berfilsafat. Hal ini disebabkan karena bangsa Yunani meliki dokumen-dokumen tentang filsafat dan secara substansi bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama kali merubah Mitos menjadi Logos. Musuh besar berfilsafat adalah MITOS. Contohnya, salat itu akan menjadi mitos jika kita tidak berusaha untuk mempelajarinya, memahaminya, dan meningkatkannya. Filsafat dalam berkembang atu tidak berkembangnya tidak dipengaruhi oleh apa pun. Filsafat yang paling menonjol sekarang ini adalah filsafat bahasa. Tidak ada suatu apa pun  di dunia ini meskipun memliki kekuasan yang besar yang akan mampu mempengaruhi filsafat bahasa ini. Karena hidup tidak pernah terlepas dari komunikasi. Setiap kata mewakili dunianya.
Ada yang seru di bagian akhir tulisan ini, jika kita disuruh memilih salah satu antara aman dan nyaman, mana yang akan kita pilih. Orang yang berfilsafat pasti akan aman meskipun tidak nyaaman. Hal ini merepresenatsikan bahwa nyaman tetapi tidak aman adalah nyaman yang sementara dan aman tetapi tidak nyama adalah ujian.


Pertanyaan:
Bagaimanakah hubungan anatara filsafat dengan ilmu bidang dan aplikasi? Apakah setinggi-tinggi ilmu bidang tidak akan pernah menyentuh ranah filsafat?